LAPAU BACA

Setelah pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS), saya bersama rekan-rekan guru melakukan evaluasi terhadap hasil belajar murid di sekolah. Dalam rapat kecil yang kami lakukan, banyak guru menyampaikan keluhan yang hampir sama, yaitu rendahnya hasil belajar beberapa murid di berbagai mata pelajaran. Awalnya kami mengira penyebabnya karena murid kurang belajar di rumah atau kurang memahami materi yang diberikan. Namun, setelah kami mencoba menelaah lebih dalam, ternyata ditemukan satu masalah mendasar yang selama ini kurang mendapat perhatian, yaitu masih adanya beberapa murid yang belum lancar membaca.

Temuan tersebut membuat kami sangat prihatin. Kemampuan membaca merupakan pondasi utama dalam proses pembelajaran. Anak yang belum lancar membaca tentu akan mengalami kesulitan memahami soal, mengikuti pembelajaran, bahkan menyerap informasi dari buku maupun penjelasan guru. Akibatnya, nilai mereka menjadi rendah dan mereka perlahan kehilangan rasa percaya diri dalam belajar. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada murid kelas rendah, mulai dari kelas 1 sampai kelas 4 sekolah dasar.

Melihat kenyataan tersebut, saya merasa tidak bisa tinggal diam. Saya kemudian berdiskusi dengan beberapa rekan guru untuk mencari solusi yang dapat membantu anak-anak tersebut. Kami menyadari bahwa mereka tidak boleh dibiarkan tertinggal lebih lama. Dari hasil diskusi sederhana itulah lahir sebuah program sekolah yang kami beri nama LAPAU BACA (Latihan Pandai untuk Membaca).

Nama LAPAU BACA dipilih karena mudah diingat dan dekat dengan budaya masyarakat Minangkabau. Program ini kami rancang sebagai kegiatan pendampingan membaca bagi murid yang masih mengalami kesulitan literasi dasar. Tujuan utama program ini bukan hanya agar murid mampu membaca dengan lancar, tetapi juga agar mereka kembali memiliki semangat dan kepercayaan diri dalam belajar.

Kegiatan LAPAU BACA dilaksanakan setelah jam pulang sekolah sebanyak tiga kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Senin sampai Rabu. Program ini dibina oleh beberapa orang guru yang dengan sukarela meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk mendampingi murid. Seluruh kegiatan dilakukan secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Kami percaya bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, sehingga membantu anak-anak agar mampu membaca dengan baik merupakan bentuk kepedulian yang harus kami lakukan sebagai pendidik.

Agar proses pembelajaran lebih efektif dan terarah, setiap guru membimbing maksimal lima orang murid. Dengan jumlah murid yang sedikit, guru dapat lebih fokus memperhatikan perkembangan masing-masing anak. Kami mencoba menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan murid. Ada anak yang masih belajar mengenal huruf, ada yang mulai belajar mengeja, dan ada juga yang sudah bisa membaca tetapi masih terbata-bata. Karena kemampuan mereka berbeda-beda, pendekatan yang kami gunakan pun harus disesuaikan agar anak merasa nyaman dan tidak tertekan.

Sebelum program dimulai, kami terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada orang tua murid. Kami menjelaskan tujuan program, jadwal pelaksanaan, serta pentingnya dukungan keluarga dalam perkembangan kemampuan membaca anak. Alhamdulillah, banyak orang tua yang menyambut baik kegiatan ini. Mereka merasa terbantu karena sekolah tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga peduli terhadap kemampuan dasar murid.

Meskipun demikian, pelaksanaan program ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada berbagai tantangan yang kami hadapi di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya motivasi beberapa murid untuk mengikuti kegiatan setelah jam sekolah selesai. Sebagian anak merasa lelah dan ingin segera pulang bermain bersama teman-temannya. Bahkan ada juga murid yang terkadang memilih cabut atau tidak hadir karena tidak ingin pulang lebih lambat dibanding teman-teman lainnya.

Kondisi tersebut sempat membuat kami merasa sedih dan khawatir. Namun, kami menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara instan. Anak-anak membutuhkan proses, pendekatan, dan dukungan yang terus-menerus. Oleh karena itu, kami tidak menyerah begitu saja. Kami terus berusaha memberikan motivasi kepada murid dengan cara yang menyenangkan. Kami mencoba menciptakan suasana belajar yang santai, tidak menegangkan, dan penuh penghargaan terhadap setiap perkembangan kecil yang mereka capai.

Selain itu, kami juga terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan orang tua murid. Jika ada anak yang mulai malas hadir, kami menghubungi orang tuanya dan berdiskusi bersama mencari solusi terbaik. Kami berharap orang tua dapat memberikan dorongan kepada anak-anak mereka agar tetap semangat mengikuti program LAPAU BACA. Dukungan orang tua ternyata sangat berpengaruh terhadap kedisiplinan dan perkembangan murid.

Perlahan tetapi pasti, program ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Anak-anak yang sebelumnya masih kesulitan mengenal huruf mulai mampu membaca kata demi kata. Murid yang awalnya malu membaca di depan kelas mulai berani mencoba. Bahkan beberapa guru mulai melihat perubahan pada hasil belajar murid di kelas. Mereka menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, dan lebih mudah memahami pelajaran.

Bagi saya pribadi, program LAPAU BACA memberikan pelajaran yang sangat berharga. Saya menyadari bahwa seorang guru bukan hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tetapi juga harus peka terhadap kesulitan yang dialami murid. Kadang-kadang, rendahnya nilai murid bukan karena mereka malas belajar, melainkan karena ada kemampuan dasar yang belum mereka kuasai. Dari situlah seorang guru harus hadir untuk membantu dan memberikan solusi.

Program ini juga mengajarkan saya tentang pentingnya kerja sama. Tanpa dukungan rekan-rekan guru dan orang tua murid, kegiatan ini tentu tidak akan berjalan dengan baik. Semangat kebersamaan dan kepedulian menjadi kekuatan utama dalam menjalankan program ini. Walaupun sederhana, kami percaya bahwa langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan dampak besar bagi masa depan anak-anak.

Saya berharap program LAPAU BACA dapat terus berkembang dan menjadi budaya positif di sekolah. Saya ingin tidak ada lagi murid yang merasa tertinggal karena belum lancar membaca. Saya juga berharap semakin banyak guru yang tergerak untuk menciptakan inovasi sederhana tetapi berdampak nyata bagi pendidikan.

Melalui program ini, saya belajar bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mengejar nilai tinggi, tetapi tentang memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik. Sebab, ketika seorang anak mulai mampu membaca, sesungguhnya saat itu pula terbuka jendela baru untuk melihat dunia yang lebih luas. 

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam program ini. Smoga Allah slalu melindungi kita semua, aamiin.


Nafrizal Eka Putra, M.Pd
Kepala Sekolah
SDN 13 Painan Utara

Comments

Popular posts from this blog

Baik-Baik Sayang, Bapak Akan Selalu Memelukmu Lewat Do'a (UPT SDN 14 Lunang)

Kembang Seroja Mekar Diantara Dua Dunia (UPT SDN 14 Lunang)

Ciri-Ciri Guru Yang Baik Dan Disenangi Siswa Versi Pak Guru Ganteng (UPT SDN 14 Lunang)